Translate

Selasa, 14 Mei 2013

Proposal Sripsi



Judul              : Pengembangan Bahan Ajar Menulis Drama Pendek Berdasar Cerita Pendek  bagi Siswa SMA Kelas XI program bahasa dengan Pendekatan Kontekstual.
Oleh                : Sofiatun
NIM                : 100211406090


1.        Latar Belakang
1.1  Sesuai dengan standar isi yang dikeluarkan BNSP ada KD menulis drama pendek berdasar cerita pendek khususnya siswa SMA kelas XI program bahasa.
1.2  Agar siswa mampu menulis drama pendek melalui media rangsang atau berdasar cerpen.
1.3  Menulis kreatif sastra (menulis naskah drama) dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap positif dan kreatif siswa terhadap karya sastra.
1.4  Agar siswa dapat menghasilkan sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat.
1.5  Penelitian ini diperlukan untuk menunjang pembelajaran secara khusus.
1.6  Siswa masih merasa kesulitan ketika menulis naskah drama serta mengembangkan ide cerita menjadi drama pendek.
1.7  Siswa kurang memiliki motivasi untuk mengungkapkan ide yagn ada dalam pikiran mereka yang berakibat pada konsep imajinasi yang rendah.
2.        Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian umum pada penelitian ini adalah menghasilkan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen bagi siswa SMA kelas XI program bahasa dengan pendekatan kontekstual.
Tujuan umum penelitian tersebut dapat diuraikan lebih dalam sebagai berikut.
1)     Mengembangkan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen bagi siswa SMA kelas XI program bahasa dengan pendekatan kontekstual berdasarkan kriteria penelitian kajian materi.
2)     Mengembangkan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen bagi siswa SMA kelas XI program bahasa dengan pendekatan kontekstual berdasarkan kriteria penelitian penyajian.
3)     Mengembangkan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen bagi siswa SMA kelas XI program bahasa dengan pendekatan kontekstual berdasarkan kriteria penelitian isi.
4)     Mengembangkan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen bagi siswa SMA kelas XI program bahasa dengan pendekatan kontekstual berdasarkan kriteria penelitian kemudahan mengembangkan unsur-unsur naskah drama.
5)     Mengembangkan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen bagi siswa SMA kelas XI program bahasa dengan pendekatan kontekstual berdasarkan kriteria penelitian kemudahan merangkai unsur-unsur naskah drama.
3.        Ruang Lingkup
3.1  Penggunaan cerpen sebagai media rangsang dalam menulis drama pendek pada siswa SMA kelas XI program bahasa pada tahap perencanaan naskah berupa kegiatan siswa yang dilakukan dengan membaca cerpen kemudian menganalisis unsur intrinsik cerpen untuk menyusun drama pendek.
3.2  Penggunaan cerpen sebagai media rangsang dalam menulis drama pendek pada siswa SMA kelas XI program bahasa pada tahap penulisan drama pendek berdasarkan perencanaan naskah berupa kegiatan mengembangkan kerangka drama menjadi drama pendek.
3.3  Penggunaan cerpen sebagai media rangsang dalam menulis drama pendek pada siswa SMA kelas XI program bahasa pada tahap menyunting dan revisi berupa kegiatan penyuntingan antar teman yang dibatasi pada penggunaan tanda baca, ejaan, dan penggunaan huruf kapital.
4.        Kegunaan
Bermanfaat bagi pihak-pihak berikut.
4.1  Guru mata pelajaran bahasa indonesia
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif model baru dalam menyusun bahan ajar yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran menulis drama pendek  berdasar cerpen. serta guru dapat mengembangkan bahan ajar ini secara lebih mandiri dan kreatif.
4.2  Siswa SMA kelas XI program bahasana
Hasil penelitian yang diperuntukkkan bagi siswa adalah bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen. Bahan ajar ini dapat digunakan oleh siswa SMA kelas XI program bahasa sebagai bahan ajar atau materi pembelajaran menulis drama pendek berdasar cerpen. Penggunaan bahan ajar ini diharapkanu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkaya pengetahuan siswa mengenai naskah drama.
4.3  Kepala sekolah
Bagi kepala sekolah bahan ajar ini dapat memberikan ijin dan kesempatan bagi guru untuk mengembangkan bahan ajar secara mandiri.
4.4  Penyusun kurikulum
Penelitian ini digunakan sebagai pertimbangan pemilih strategi dalam pembelajaran menulis drama pendek berdasar cerpen dalam penyusunan kurikulum pada masa yang akan datang.
4.5  Penulis bahan ajar
Cerpen yang terdapat dalam bahan ajar ini dapat dijadikan rangsang dalam mengembangkan kemampuan menulis drama pendek pada siswa SMA kelas XI program bahasa. Melalui pendekatan kontekstual yang terdapat dalam bahan ajar ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menyusun bahan ajar yang lebih kreatif.
4.6  Peneliti lain.
Bahan ajar dikembangkan pada penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian sejenis. Prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini juga dapat menjadi pedoman bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa. peneliti lain disarankan untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini.
5.        Definisi Operasional
5.1  Bahan ajar: seperangkat materi berisi fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang disusun secara sistematis dan digunakan oleh siswa dan guru sehingga tercipta lingkungan/ suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
5.2  Drama: cerita atau kisah yang melibatkan konflik atau emosi dan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.


5.3  Naskah drama: suatu karangan atau cerita yang berupa tindakan atau perbuatan yang masih berbentuk teks atau tulisan yang belum diterbitkan (pentaskan).
5.4  Cerita pendek: karangan pendek atau kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika).
5.5  Pendekatan kontekstual adalah suatu konsep belajar mengajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

6.        Kajian Pustaka
6.1  Pengembangan Bahan Ajar
6.1.1  Pengertian pengembangan bahan ajar
Bahan ajar adalah isi mata pelajaran yang didalamnya berisi fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang disusun secara sistematis . Isi mata pelajaran ini sangat banyak, diantaranya naskah drama. Pengembangan bahan ajar adalah pendekatan sistemik dalam merancang, mengevaluasi, memanfaatkan keterhubungan fakta, konsep, prinsip, atau teori yang terkandung dalam mata pelajaran atau pokok bahasan dengan mengacu pada tujuan.
6.1.2  Tujuan dan prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar
Tujuan pengembangan secara garis besar adalah sebagai usaha untuk menyajikan materi yang akan dibelajarkan ke dalam format yang lebih efektif dan efisien untuk digunakan dan dimengerti.
6.1.3  Prosedur pengembangan bahan ajar
Untuk menghasilkan bahan ajar yang baik perlu dilakukan secara bertahap. Prosedur pengembangan bahan ajar yang dijalankan melalui tiga tahap, yaitu tahap merancang, tahap mengembangkan, tahap uji kelayakan dan tahap pemanfaatan.
6.2  Menulis Drama Pendek
6.2.1  Pengertian drama pendek
Drama seringkali disamakan dengan teater. Drama artinya berbuat, bertindak; sementara teater artinya tempat pertunjukan. Kata teater sendiri mengacu kepada sejumlah hal yaitu: drama, gedung pertunjukan, panggung pertunjukan, kelompok pemain drama, dan segala pertunjukan yang dipertontonkan.  Drama pendek secara unsur sama dengan drama pada umumnya, perbedaanya terletak pada alur yang terjadi di dalamnya. Ketika menulis drama pendek alur menjadi lebih singkat.
Drama berdasarkan bentuk bahasa dibagi menjadi: drama puisi, drama prosa, drama prosa puisi, dan drama simbolik. Berdasarkan bentuk penampilan drama dibagi menjadi lima yaitu: sandiwara, sendratari, pantomim, tableau, dan opera. Sedangkan dilihat dari sudut media isi drama dibagi menjadi: tragedi, komedi, tragi komedi, melodrama, dan farce.
6.2.2  Unsur-unsur drama pendek
·         Unsur intrinsik, terdiri dari: tema, alur atau plot, karakteristik dan penokohan, latar, amanat.
·         Unsur ekstrinsik, terdiri dari: riwayat hidup pengarang, falsafah hidup pengarang, dan unsur sosial budaya masyarakat yang dianggap dapat memberikan masukan yang menunjang penciptaan karya drama tersebut.
6.2.3  Menulis kreatif drama pendek
Menulis kreatif merupakan kegiatan menulis yang lahir dari ide atau gagasan kreatif seorang penulis. Roekhan (1991:1) menyatakan bahwa menulis kreasi merupakan proses menciptakan karya sastra yang dimulai dari munculnya ide dalam benak penulis, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menangkap dan mengembangkan ide, setelah itu dilanjutkan denga mematangkan ide agar jelas dan utuh, kemudian membahasakan ide tersebut, dan terkhir adalah menuliskan ide tersebut de dalam bentuk karya sastra.
Menulis drama pendek merupakan kegiatan menulis kreatif sastra yang menciptakan karya sastra. Menulis drama sama halnya dengan kegitan menulis kreatif prosa yang lain seperti cerpen. Kegiatan menulis drama adalah kegiatan menciptakan karya sastra yang berupa pengungkapan ide, kesan, perasaan, harapan, dan imajinasi secara tertulis berdasar objek yagn diamati dalam bentuk naskah drama menurut kreativitas dan pengetahuan yang dimiliki seseorang.
6.2.4  Langkah-langkah menulis drama pendek  berdasar cerpen
Kegitan menulis naskah drama bukan merupakan kegiatan yang instan, tetapi memerlukan tahapan untuk menentukan peletakan elemen-elemen dan semua aspek yagn nantinya akan membangun sebuah cerita dalam drama. Pratiwi (1997:2) naskah drama tidak boleh disikapi sebagai naskah baca, ia harus dipentaskan. Hal tersebut menegaskan bahwa sebuah naskah drama tidaklah sempurna apabila belum memalui pementasan.
Secara garis besar ada tiga tahap yang dilakukan dalam menulis drama pendek berdasar cerpen. Pertama pemahaman, di dalamnya ada beberapa proses diantaranya: pembacaan cerpen secara teliti sebagai sumber ide dan rangsangan, pemahaman unsur-unsur cerpen, mencatat unsur-unsur dan informasi penting dari cerpen, pemahaman unsur-unsur drama. Kedua penulisan, di dalamnya ada beberapa proses diantaranya: mengembangkan unsur intrinsik cerpen kedalam unsur intrinsik drama di sini bisa terjadi proses penambahan atau pengurangan hal-hal yang kurang sesuai yang dipastikan tidak berubah dalam proses penyaduran cerpen kedalam drama pendek ialah tema, amanat, dan watak tokoh. Ketiga tahap pengembangan, pada tahap ini cerita pendek yang menjadi rangsangan sudah menjadi sebuah karya drama pendek. Pada tahap pengembangan ini proses yang terjadi adalah perbaikan-perbaikan dari setiap unsur-unsur drama pendek, dan proses penyuntingan terhadap setiap kalimat-kalimatnya.
Langkah-langkah lain dalam menulis drama pendek yang bisa ditempuh diantaranya: menentukan tema, mendata satuan peritiwa, menyusun sinopsis atau kerangka, mengembangkan sinopsis menjadi drama pendek.
6.3  Pendekatan kontekstual
6.3.1  Pengertian pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar tempat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubunga antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan kontekstual berpedoman pada delapan hal yaitu: aktif belajar mandiri secara terus menerus, menghubungkan kegiatan dalan materi pembelajaran denga kehidupan nyata, tugas-tugas yang bermakna, berpikir kreatif dan kritis, bekerja sama, memberikan perhatian pada perbedaan pribadi, menggunakan dan mencapai standar tinggi, dan memberikan penilaian otentik. Pembelajaran menulis drama tidak hanya diarahkan pada unsru intrinsik dan ekstrinsik drama, tetapi pemahaman aspek intrinsik dan ekstrinsik dapat mendukung pemerolehan pengetahuan dan belajar menulis drama yang baik sehingga mengasilkan tulisan yang indah.
6.3.2  Ciri-ciri pendekatan kontestual
Ada tujuh komponen dalam ciri-ciri pendekatan kontekstual diantaranya: konstruktivisme, inquiri, modeling, learning community, authenthic assessment, dan reflection.
6.4   Pengembangan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen.
6.4.1  Pengertian bahan ajar
Bahan ajar adalah bahan-bahan yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam bahan ajar menjelaskan tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi siswa untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belajar siswa dalam bentuk penyediakan bimbingan bagi siswa. Bahan ajar dengan pendekakatan kontekstual melatih siswa untuk menciptakan kreativitas. Pengembangan bahan ajar merupakan usaha dan kegitan untuk menciptakan (merancang, memproduksi, dan mengevaluasi)  sumber belajar mandiri yang disusun secara sistematis sesuai dengan kurikulum, dengan tujuan menciptkan bahan ajar untuk meningkatkan dan memperbaiki sistem pembelajaran.
6.4.2  Tahap-tahap pengembangan bahan ajar
Penyusunan bahan ajar dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa tahap-tahap yaitu: menentukan tujuan, isi, dan fungsi bahan ajar; menyempurnakan dari tulisan bahan ajar awal; memberi bentuk dan merinci bagian-bagian bahan ajar; dan menilai bahan ajar.
6.4.3  Pengembangan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen dengan pendekatan kontekstual.
Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan berjalan dengan pesat. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan itu harus diantisipasi oleh lembaga pendidikan  formal (sekolah) di negeri ini agar dapat memberikan informasi dan perkembangan ilmu yang terbaru. Untuk dapat menjawab perubahan dan perkembangan itu di era saat ini maka pemerintah melakukan perubahan kurikulum pendidikan.
Dengan adanya perubahan kurikulum, menuntut pula perubahan bahan ajar pada semua mata pelajaran. Dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di tingkat Sekolah menengah Atas (SMA) khususnya program bahasa terdapat kompetensi dasar  menulis drama pendek berdasar cerpen. Keterampilan menulis naskah drama ini harus dikuasai oleh siswa tingkat SMA khususnya program bahasa. Namun faktanya sebaliknya. Dengan adanya fakta seperti ini maka dibutuhkan bahan ajar baru. Penelitian pengmbangan bahan ajar ini berusaha semaksimal mungkin untuk mempermudah siswa dalam menulis  naskah drama.
Pengembangan bahan ajar menulis drama pendek berdasr cerpen ini dihasilkan berdasarkan pada kebutuhan materi yang dikembangkan. Adapun materi yang dikembangkan adalah pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada keterampilan menulis. Bentuk pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan bahan ajar tidak hanya berupa buku pelajaran, tetapi juga sarana, media yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Hasil pengembangan didefinisikan sesuai dengan data uji kelayakan sehingga menggambarkan kualitas produk pengembangan yang sebenarnya.

7.        Metode Penelitian
7.1  Model pengembangan
Model pengembangan bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen ini dirumuskan dengan tahapan analisis pendahuluan, analisis kurikulum, dan menganalisis karakteristik siswa.
Tahap selanjutnya adalah membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), menulis dan menyusun draf  bahan ajar. Hasil pengembangan diuji cobakan untuk mengetahui validasi melaui kegiatan uji ahli, uji guru, dan uji siswa. produk yang dihasilkan  melalui penelitian ini adalah bahan ajar menulis drama pendek berdasar cerpen. Model pengembangan bahan ajar yang dimaksud dapat dilihat dalam bagan berikut.


7.2  Desain penelitian (Prosedur pengembangan)
Ada tiga tahapan yang dilakukan dalam prosedur pengembangan ini diantaranya.
7.2.1  Analisis pendahuluan
Analisis pendahuluan merupakan tahap pertama yang dilakukan, di dalamnya ada tindakan yang dilakukan yaitu; menganalisis kurikulum dan melakukan pengkajian terhadap empat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, menulis, dan berbicara). Hasil pengkajian dipilih pada aspek menulis.
7.2.2  Persiapan bahan ajar
Persiapan bahan ajar merupakan tahap kedua yang dilakukan, ada tiga hal yang dilakukan dalam persiapan bahan ajar meliputi: analisis karakteristik sisiwa, menentukan strategi pembelajaran, dan penyusunan RPP.
7.2.3  Penulisan dan penyusunan bahan ajar
Penulisan dan penyusunan bahan ajar merupakan tahap ketiga sekaligus tahap akhir.  Dalam penulisan dan penyusunan bahan ajar peneliti menerjemahkan pengetahuan yang bersifat umum ke dalam bentuk spesifikasi terinci untuk keperluan pembuatan sumber belajar. Adapung yang dilakukan pada tahap ini ialah: membuat skenario bahan ajar, memilih materi yang sesui dengan tujuan pembelajaran, dan merancang draft bahan ajar.
Secara lebih singkat prosedur pengembangan bisa dilihat pada  bagan beriku.



7.3  Sumber data
Penelitian ini bersifat pengembangan. Peneliti mengembangkan pembelajaran menulis, dan ditambah dengan pengayaan pengetahuan bahasa dan mengembangkannya dalam bentuk bahan ajar SMA kelas XI program bahasa. Data dalam pengembangan ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Bahasa Indonesia SMA kelas XI, daftar rujukan atau referensi teori, implikasi, dan pengajaran menulis dari berbagai penulis maupun penerbit, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
7.4  Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini dibedakan menjadi dua yakni instrumen pengembangan bahan ajar dan instrumen pengumpulan data atau uji lapangan. Instrumen pengembangan bahan ajar berupa draf awal bahan ajar (komponen bahan ajar terdiri dari empat kompetensi dasar keterampilan berbicara, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, latihan dan evaluasi pembelajaran sbagai terlampir di hasil), dan RPP. Instrumen uji lapangan berupa: angket penilaian yang diberikan kepada guru pengajar dan siswa; dan pedoman observasi.
7.5  Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mengunakan angket untuk menghimpun data dari para ahli atau pakar, guru, dan siswa. Data yang diperoleh adalah data verbal (catatan, komentar, saran, kritik, koreksi, dan usul) yang dituliskan pada angket maupun bahan pembelajaran. Saran yang disampaikan secara tertulis dan bila peneliti belum jelas diklarifikasi secara lisan pada subjek uji coba dengan wawancara bebas.
7.6  Teknik analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif deskriptif dan dilakukan melalui: mentranskrip data verbal dari hasil wawancara dengan guru; pembuatan peta penyusunan bahan ajar; pembuatan RPP; dan penulisan dan penyusunan bahan ajar.

8.        Daftar Rujukan

Haryadi. 2010. Model Pembelajaran. Semarang: Unnes.
KBBI. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka.
Mbulu, J. dan Suhartono. 2004. Pengembangan bahan ajar. Malang: Elang mas.
Puspitoningrum, Encil. 2010. Pengembangan bahan ajar menulis dongeng menggunakan pendekatan kontekstual untuk siswa smp kelas VII. skripsi tidak untuk diterbitkan. Malang: UM Fakultas Sastra.
Roekhan. 1991. Menulis Kreatif: Dasar-dasar dan Petunjuk Penerapannya. Malang: YA3 Malang.
Sendratasik. 2008. Pengertian Drama dan Teknik Penulisan Naskah Drama. (online) tersedia: http//sendratasik.wordpress.com. 04/12/2012.

esai naskah drama



DRAMA REALITA MISTIS ROBOHNYA SURAU KAMI
aku, kakek, dan Ajo Sidi
Oleh:Ninis Sofie

Naskah drama adalah sebuah kesatuan teks yang membuat kisah yang dituliskan dalam dialog-dialog tokoh. Ada beberapa karya sastra yang biasanya dihasilkan oleh seseorang yaitu cerpen,  novel, puisi, dan naskah drama. Naskah drama merupakan jenis sastra yang tersendiri dan istimewa. Keistimewaan naskah drama yaitu naskah drama lahir dan ada karena peristiwa perenungan akal dan perasaan yang dilakukan seorang pengarang. Perenungan ketika bagaimana kekreatifan pengarang dalam menghadirkan sebuah cerita dalam sebuah pementasan yang nantinya akan dinikmati sebagai sajian audio visual. Naskah drama yang dipentaskan adalah sebuah kehidupan yang dikemas dalam suatu pertunjukan.  
Menulis naskah drama masih jarang dilakukan oleh seseorang karena naskah drama bukan untuk dibaca saja, melainkan untuk dipertunjukkan sebagai tontonan. Bisa dilihat dari naskah drama Robohnya Surau Kami karya Hermana HMT yang merupakan adaptasi dari sebuah cerpen dengan judul yang sama karangan AA Navis.  Naskah drama sebagai salah satu genre sastra dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna). Wujud fisik sebuah teks drama adalah dialog atau ragam tutur dan struktur batin ialah semua hal yang ada dalam naskah itu baik itu secara tersurat maupun tersirat (termasuk juga pada setting, lakuan, klimaks, ataupun permasalahan).
Naskah drama Robohnya Surau Kami berikut merupakan adaptasi dari sebuah cerpen. Hermana tidak mengubah judul dari cerpen ke naskah drama, ia hanya sedikit menambahkan dan menekankan situasi yang berlangsung dalam cerpen. Dapat dilihat dari kutipan berikut.

SEJENAK MUSIK BERGEMURUH. PERLAHAN TERDENGAR GESEKAN BIOLA ATAU LANTUNAN SERULING DIBARENGI GEMERCIK AIR DAN DESIR ANGIN.
SAYUP-SAYUP TERDENGAR KUMANDANG ADZAN SUBUH. ORANG-ORANG MUNCUL DARI BERBAGAI ARAH, BERBARIS DI PANGGUNG SEPERTI MAU MELAKUKAN SHALAT.
...
TIBA-TIBA SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DAN MENANGIS SEPERTI ANAK KECIL.

SEORANG PEREMPUAN
Kini kakek itu sudah tidak ada lagi. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Sekarang hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Orang-orang itu semakin masa bodoh. Dan biang kebodohan itu ialah sebuah dongeng yang tidak dapat disangkal kebenarannya.

Hermana menambahkan alunan musik untuk mendukung dialog yang akan disampaikan oleh tokoh seorang perempuan. Hermana juga menambahkan bagaimana lakuan dari si tokoh seorang perempuan tersebut. Hal yang tidak berubah dari cerpen terhadap naskah drama ialah dialog dari seorang perempuan itu. Hal serupa dapat dilihat dari kutipan berikut.
Nukilan dialog pada naskah drama.
PEREMPUAN SATU
Tapi kakek itu sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggal surau itu tanpa penjaganya, hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar seing mencopoti papan dinding lantai di malam hari.
PEREMPUAN DUA
Jika kalian datang sekarang,hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh.
PEREMPUAN TIGA
Dan kecerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya.

Nukilan narasi dalam cerpen.
Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.
Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh.
Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya.

Berdasarkan kutipan-kutipan tadi dapat dilihat bahwa secara keseluruhan untuk dialog tidak berubah. Hermana menambahkan tokoh-tokoh sebagai orang yang akan mengucapkan dialog tersebut. Ada tokoh tambahan yang hadir dalam naskah drama ini yaitu tokoh pimpinan pentas. Pimpinan pentas di sini berperan sebagai seorang yang berlagak sebagai sutradara tapi di sini ia sebenarnya adalah tokoh yang dihadirkan dalam panggung. Cukup unik menurut hemat saya bagaimana Hermana mengemas cerita yang begitu dramatis ke atas panggung.
Jika dilihat dari cerpen dan naskah dramanya tidak ada yang berubah mengenai pesan yang disampaikan. Robohnya Surau Kami baik dari cerpen maupun naskah drama bercerita tentang seorang Kakek penjaga surau yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Surau yang dulu dijaga dan dirawatnya kemudian menjadi tidak terurus dan tinggal menanti robohnya saja. Dalam cerpen ini Kakek diceritakan mengalami gejolak batin yang luar biasa yang menyebabkan dirinya stress, depresi, dan frustasi. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan sebelumnya yang diungkapkan tokoh perempuan satu, dua, dan tiga.
Peristiwa yang digambarkan merupakan rangkaian sebab akibat yang jika salah satu dihilangkan tentu akan merusak cerita. Hal tersebutlah yang dijaga oleh Hermana sehingga ia tidak memberikan tambahan yang terlalu banyak terhadap ceritanya. Elemen-elemen peristiwa tersebut merupakan satu unitas yang tak bisa dipisahkan. Keberadaan tokoh Kakek sebagai tokoh utama tidak mungkin hadir tanpa cerita dan peristiwa. Begitu juga perwatakannya dan prilaku yang inkonvensional yang tidak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa dan tema yang dicuatkan pengarang. Sikap dan sifat kakek yang religius, dan peristiwa yang mengejutkan merupakan simbolsme dari gambaran situasi sosial, kondisi moralitas, dan kondisi struktur sosial pada masa cerita tersebut dilahirkan. Lebih jauh,  hubungan antara si Aku, si Kakek, dan Ajo Sidi dan perbuatan yang dilakukan adalah sebuah proses dialektik terhadap realitas yang terjadi.
Sikap si Kakek yang sangat religius, menjaga imannya sampai akhir hayatnya, beribadah, mengabdikan dirinya hanya untuk Tuhannya, rela meninggalkan istrinya, menjaga tempat ibadah di kampungnya, dan rela tidak punya banyak harta menjadikan dia sebagai pusat perhatian. Kemudian pertentangan sifat yang dialami Ajo Sidi sebagai tokoh antagonis, melawan sifat si Kakek sebagai karakter protagonis, yang menghujat  si kakek sebagai manusia terkutuk karena terlalu rajin beribadah dan tak peduli kepada lingkungan sekitar, juga menjadi perhatian setelah pusat perhatian sebelumnya. Perbuatan Ajo Sidi yang menghujat Kakek tersebut, jika dilihat dari konteks sastra akan menimbulkan ketegangan.
Ketika si Kakek menceritakan semua hujatan Ajo Sidi kepada si Aku,  muncullah ketegangan, lalu Kakek merasa tidak mengerti kenapa Ajo Sidi suka membual kepada orang-orang bahkan orang serenta dan sereligius Kakek bisa menjadi korban bualannya. Ketika kakek mengasah pisau Ajo Sidi dan bercerita dengan si aku, menumpahkan segala kekesalannya, si aku menyaksikan gurata amarah yang amat mendalam. Namun si kakek menahannya dengan alasan tak ada gunanya, hanya meleburkan semua pahala ibadahnya jika ia melayani Ajo Sidi. Bahkan si aku berniat menghajar Ajo Sidi karena telah membual di depan kakek yang dikenal taat beribadah.  Bualan Ajo Sidi kepada kakek hanya berupa sindiran bahwa manusia yang banyak beribadah kepada tuhan akan dimasukkan kedalam neraka, tidak akan diterima ibadahnya karena tidak pernah peduli dengan lingkungan sekitrnya. Lalu si aku tiba-tiba mendengar kabar bahwa kakek telah meninggal dan surau yang telah dijaganya bertahun-tahun kini tak ada yang merawatnya dan hampir hancur karena termakan usia. Jelaslah bahwa tindakan dari tokoh-tokohnya berdasarkan plotnya tidak hanya menimbulkan ketegangan melainkan merupakan satu bangunan yang utuh baik simbolik maupun perjalan peristiwa itu sendiri.
Apakah peristiwa tersebut merupakan realitas, atau hanya pandangan dunia pengarang yang dikonkretkan? Atau barangkali realitas sosial yang terjadi sudah kacau balau seperti prilaku Ajo Sidi. Membolak balikan aturan, menghukumi manusia dengan salah kaprah.  Apakah prilaku masyarakat sudah tak menghiraukan lagi tentang keimanan, tak menjaga rumah tuhan, menghiraukan tatanan kehidupan, keegoisan, kedengkian. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terus muncul ketika membaca robohnya surau.
Dalam cerita ini terdapat juga cerita berbingkai, yaitu cerita dalam cerita. Cerita tersebut di ceritakan oleh Ajo Sidi kepada si Kakek yang berisi bualan yang menyakitkan.  Dalam cerita tersebut terdapat tokoh yaitu haji Salim sebagai tokoh utama cerita anakan,  terdapat konflik, setting, dan penokohan yang komplit, cerita ini menjadi unik karena berisi dialog dengan Tuhan. Sebagai cerita anakan yang menginduk pada cerita yang menginduk pada cerita pusat. Namun cerita tetap utuh. Cerita ini diberikan pengarang untuk menekankan lagi dan lebih menghidupkan tema cerita yaitu konflik batin tokoh utama dan religiutas sebagai setting dalam penyampaian tema cerita.
Pantaslah kiranya ketika Hermana tidak banyak melakukan perubahan terhadap dialog yang diadaptasi dari cerpen karena dari dialog-dialog itulah muncul cerita yang sebenarnya yang ketika dilakukan pemotongan bisa mengakibatkan berkurangnya pesan yang ingin disampaikan si penulis cerita kepada si pembaca. Cukuplah seperti itu Hermana mengkreasikan sebuah cerita pendek ke dalam naskah drama, akan muncul tambahan baru ketika nantinya naskah drama adaptasi yang ditulis oleh Hermana dipentaskan ke dalam sebuah pertunjukan. Hal itu akan menimbulkan proses kreatif sutradara dalam memindahkan teks menjadi tampilan audio visual yang akan ditonton oleh banyak orang dan tidak menutup kemungkinan akan muncul tambahan-tambahan baru.