Translate

Minggu, 24 Maret 2013

cerpen 2


Di Kaki Bukit Biru
Oleh: Ninis Sofie

Tidak seperti biasanya, jika aku dan dia sudah terbiasa bersama dengan kebersamaan yang bisa dikatakan tak terpisahkan, tapi sekarang menjadi sepi dunia seakan tak akan lagi bersama karena memang aku sudah sendiri. Di sini hanya ada aku, udara yang ku hirup hampir sulit kurasakan, angin bahkan tidak ada, embun yang menetes seperti memberikan perih dalam sayat luka. Melamun bukan hal yang biasa aku lakukan ketika aku bersamanya. Suara-suara kendaraan bagai lagu kematian yang menyuarakan tangis dan kicauan burung tak sanggup menghentikannya. Begitulah kiranya diriku tanpa dirinya.

***

Tit,, tit,,tit,,tit,, tit,,
Handphoneku berbunyi
“halo”
“halo manis, kita ketemu di tempat biasa ya”
“ok By”

Bukan siapa-siapa aku dan Aby adalah teman, yah,, mungkin memang hanya teman. Mungkin saja.
Tempat biasa sudah menunggu, sebuah tempat yang cukup nyaman untuk membicarakan segala hal yang ingin kau bicarakan bersama seseorang. Pohon yang rindang dengan kursi kayu di bawahnya. Ada banyak pohon, disebarang sana ada pohon dengan ayunan menggantung. Kami biasanya lebih memilih di sini, bukan karena ada kursi malah kami lebih sering duduk di rumput menikmati segarnya udara dibawah pohon yang begitu rindang dengan pemandangan gunung yang masih hijau kau bisa bayangkan betapa segar udara disini. Begitu memberi ketenangan bagi pikiran yang butuh ketenangan.
Aby tiba-tiba datang dan menutup mataku dengan kedua tangannya dari belakang
“Aby, kebiasaanmu gak pernah berubah ya!”
“kamu kok tahu kalau aku”
“ya tahu lah”
“kan bisa saja orang lain yang melakukannya, di sini kan tempat umum jadi bukan hanya aku yang berada di sini, yah memang sih di sini terlihat sepi meskipun tempat umum, tapi itu malah membuat untung” kata Aby sambil tersenyum menggoda
“kenapa begitu, jangan ngeres otakmu”
“ye,, siapa yang ngeres, otakmu itu yang perlu dicuci”
“kenapa harus otakku”
“lha kamu pikirannya ngeres aja, maksudku memberi untung tadi itu, kan kalau masih sepi berarti alamnya masih alami, gak ada yang mengotori, masih segar, gitu maksudku”
“alah,, kamu cuma mengalihkan pikiran ngeresmu saja”
“ya sudah terserah si nona manis ini deh”
“tu kan mulai ngrayu kan”
“sudah lah aku pengen ketemu kamu bukan mau ngrayu kamu, dikira kurang kerjaan apa aku?”
“trus mau apa”
“gini nona manis, kamu tahu apa yang sedang terjadi dengan bukit di depan sana yang kita lihat dari sini sepertinya berwarna kebiruan?”
“kenapa emangnya, ada yang salah dengan warna itu?”
“kamu tahu kenapa?”
“aduh,, sudah jangan berbelit-belit langsung ketopik pembicaraanmu saja”
“dengerin dulu tuan putri nona manis”
“jangan lebay kamu”
“ok,, ok ,, gini kita kan selalu berada disini ketika diskusi apa pun , tentang aku, tentang kamu, tentang teman-teman kita, tentang apa saja yang ingin kita bicarakan, dan kita selalu memandang bukit itu kan, warna kebiruaanya memang menakjubkan kita seperti bisa melihat laut diatas bukit dengan ranting-ranting sebagai ikan terinya dan dedaunan sebagai terumbu karang.”
“maksudmu kamu ingan memindahkan bukit itu supaya kita dapat pemandangan baru gitu”
“pikiranmu aneh amat sih nona manis, ya mana bisa aku, gila apa, maksudku itu kebalikannya”
“kebalikannya?,, maksudnya kamu ingin memindahkan bukit yang kita duduki ini ketempat lain supaya ada pemandangan baru, gitu?”
“aduh,,, aduh,, apa sih yang ada diotakmu ini, ya enggak lah manis, maksudku kebalikannya itu kita berada disana dan melihat kesini”
“kita naik kebukit kebiruan itu dan duduk memandang bukit yang sekarang kita duduki ini?”
“pinter juga nona manis ini ternyata”
“aby, berhentilah memanggilku nona manis”
“baiklah tuan putri nona manis”
“terserah kamu saja lah”
“lalu bagaimana”
“apanya”
“naik kebukit sana”
“gila ya itu kan bukan tempat pendakian, jangan samakan dengan disini, kalau disini naik motor, naik mobil jalan kaki bentar kita sudah sampai dipuncaknya, karena memang sudah tempat umum, lah kalau disana? Bahaya tahu gak sih”
“aku sudah pernah coba”
“gak percaya, kamu naik bukit ini saja sudah ngos-ngosan apa lagi mendaki bukit kebiruan itu, kalau kamu mati disana siapa yang mau bawa mayat kamu, aku? Ogah lah”
“ya sudah aku pergi sendiri lagi”
“silakan”
“kok gitu”
“kita lihat besok saja, aku pikir-pikir dulu, ok Aby yang cerewet?”
“baiklah, aku jamin kamu bakalan berangkat kok”
“sok tahu”

Duduk di teras dengan memegang buku, aku tak bisa membacanya bukan karena aku tak bisa membaca tapi masih berpikir sesuatu. Ada alasan kenapa aku harus berpikir terlebih dahulu sebelum mendaki bukit kebiruan itu. Bukan karena aku takut, bukan karena aku sibuk aku sudah banyak mendaki bukit, mendaki gunung berapi sudah banyak yang aku daki, tapi untuk Aby dia terkadang terlihat berpura-pura dengan keinginannya untuk mendaki, sepertinya ia tahu aku suka mendaki, lalu dia pura-pura sudah mendaki banyak gunung dan selalu mengajakku mendaki gunung yang belum jadi pendakian. Aku memikirkannya, karena dia belum terbiasa dengan kehidupan pendakian, belum cukup pengalaman untuk mendaki bukit kebiruan itu yang nyatanya masih belum pernah dijamah orang. Iya, aku tertanya memikirkan Aby, memikirkan orang yang selama ini tak jelas apa yang ia lakukan ketika bersamaku.

Tit,, tit,,tit,,tit,, tit,,
Handphoneku sepertinya berbunyi
Dari Aby
“halo”
“nona manis, aku barusan tertidur di teras, trus aku mimpi buruk”
“trus kenapa kamu bilang ke aku, kamu kira aku nyihir kamu dari sini biar kamu mimpi buruk, gitu?”
“ya enggak lah putri manis”
“trus kenapa telpon aku”
“ya pengen ngasi tahu aja kalau aku barusan mimpi buruk”
“trus apa hubungannya sama aku?”
“ya gak ada, aku cuma pengen ngasi tahu kamu kalau aku tadi mimpi buruk”
“trus kalau aku sudah tahu”
“ya udah,makasi ya”
Tut,, tut,, tut,,  telphonnya ditutup
Dasar cowok kurang kerjaan. Yah. Memang begitu mungkin Aby, selalu punya hal-hal yang tak pernah aku pikirkan, tak pernah kubayangkan.

***

“cepat By, bawa barang-barangmu dan kita akan segera berangkat, kan kamu sendiri kemarin yang menantang ku”
“iya sabar ini juga sudah jalan”
“kalau tidak salah perhitungan, kita berangkat sepagi ini mungkin sebelum siang kita sudah bisa sampai dibukit kebiruan itu dan mungkin kita bisa segera turun sebelum larut malam”
“siap nona manis”

Benar memang jika bukit ini belum dijamah orang sama sekali, tak ada jalan setapak yang sudah terbentuk, pohon begitu menjulang tinggi dan lumut menyelimuti bagian pohon yang tak tersinari mahatari. Tumbuhan pakis dan ilalang liar begitu subur, tak hanya tumbuhan, hewan-hewan pun sepertinya terkejut dengan kedatangan kami. Kami membuat jalan setapak sendiri yang memang akan langsung hilang ketika kita sudah melewatinya karena tumbuhan pakis begitu lebat menyelimuti. Udara yang terhirup juga terasa lembab serasa kita bernafas dengan air yang untungnya karena kemurnian hutan sehingga terasa begitu segar dipernapasan.
Perjalanan mendaki selalu memberikan pengalaman yang tak pernah ku tahu artinya, serasa ada yang tertambah dalam nuraniku ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan sekedar kata, senyum, atau bahasa tubuh. Sesuatu itu begitu tersembunyi tapi begitu mudah dirasakan dengan hanya pada diri sendiri.

“akhirnya kita bisa sampai di bukit ini ya nona manis”
“iya, cukup lumayan medannya”
“apa aku bilang, kamu nggak bakalan nyesel aku ajak kemari”
“terserah kamu aja”
“tetap indah ya? Kalau kemarin kita duduk di sana dan melihat bukit ini sekarang berbalik, kita duduk di sini dan melihat bukit itu”
“sama indahnya”
“iya tapi rasanya beda kan”
“apanya yang beda”
“kan kalau kita duduk di sana yang kita lihat bukit kebiruan ini, kalau kita duduk di sini yang kita lihat bukit yang sudah terawat itu”
“iya”
“lalu kenapa bukit ini terlihat biru ya kalau kita lihat dari sana?”
“kamu nggak lihat rumput bunga di sekitarmu?”
“oh iya, bunga-bunganya memang berwarna biru, istimewa sekali”
“satu jam lagi kita turun ya, biar nggak kemaleman”
“ok, nona manis”
**
Sepanjang perjalanan menuruni bukit aku terus memimpin penurunan bukit ini, entah kenapa dia selalu ingin berada di belakangku, ingin menjaga ku katanya, entahlah.
Perjalanan turun tak sebegitu sulit ketika kami mendaki karena tak begitu menguras tenaga hanya butuh keseimbangan yang tepat agar ketika menuruni jalan yang lincin tak tergelincir oleh lumpur yang menjadi tempat berpijak. Sepanjang perjalanan aku terus mengobrolkan hal-hal apa saja yang bisa kami perbincangkan terkadang aku menoleh kebelakang ketika dia tak menanggapi perkataanku, dia hanya membalas dengan senyuman.
Perjalanan turun kali ini sepertinya kami harus melewati jurang kecil tak ada jembatan karena sudah seperti yang ku bilang kalau bukit ini memang belum terjamah, arus yang mengalir cukup deras dan ini mungkin tantangan yang harus kami lewati dengan sangat hati-hati.
“kamu sanggup kan melewati tantangan ini?”
“ya sanggup lah nona manis, apa perlu kamu kugendong”
“kurang kerjaan”
Sedikit demi sedikit kami mencoba melewati jurang itu.
“akhirnya kita bisa melewati jurang itu ya” kata ku
Perjalanan terus berlanjut dan aku terus saja mengomel menceritakan hal-hal menarik yang sering aku alami ketika aku mendaki, seperti tiada habis untuk ku ceritakan karena bagiku bukit-bukit yang ku daki tak pernah berkata jujur mereka selalu mempunyai rahasia yang mereka ingin orang mencari tahu apa rahasia itu tapi mereka tak begitu mudah memberikan jawaban.
Sudah sampai di kaki bukit dan lampu-lampu jalan sudah mulai terlihat dekat, aku menoleh
Tak ada siapa pun dibelakangku hanya kosong dalam keremangan sang senja yang sudah mulai merayap
“By dimana kamu? Jangan bercanda”
Tak ada jawaban
“By, jangan membuat aku takut, Aby ayo rumah sudah dekat, kamu dimana?”
Tak ada apa pun, tak ada seorang pun selain diriku
Aku berlari kembali kejalan yang tadi aku lalui, sudah berapa lama aku tak menoleh semenjak menyeberangi jurang, kenapa aku tak menggandeng tanggannya ketika menyeberangi jurang tadi kenapa aku tak menariknya keatas ketika dia menyeberangi jurang kenapa aku hanya terus bercerita tanpa henti dengan semau ku
“Aby, kamu dimana”
Tak ada jawaban sampai petang menyelimuti ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar