Translate

Kamis, 11 April 2013

cerpen liris 2


Aku Di sini, Kau Dirimu, Kau Di sana, Dan Dirinya
Oleh: Ninis Sofie

Hari ini dimanakah bisa aku bertanya kemana angin membawa rinduku. Ketika lawanmu ‘siang’! telah merabai hati kesendirian yang terkata sepi telah membalut erat tak lepas begitu saja.
Aku bahkan telah berjanji untuk tidak terus bersandiwara dalam kesandiwaraanku tapi itu tetap saja terjadi
Ketika aku bertanya apakah memang sudah semestinya. Tak pernah kudapat jawab yang menopang tanyaku hanya tali jawaban yang terus menyeretku kelembah pertanyaan tak terjawab. Begitulah sekarang.
Hari itu waktu aku masih bisa melihat pembuat bayangmu aku juga bisa melihat senyummu tapi ketika hanya tinggal bayang kenapa senyum itu tetap tak mau pergi, kurasakan aneh yang merabai.
Ku coba ukir sedikit tawa dengan suasana yang tak lagi sama, mencoba untuk tak menaruhmu dalam hati dan otakku agar tak lagi teringat sebagai kenangan karena “Kenangan itu kadang-kadang bisa muncul kembali sekali saja dalam seumur hidup, terkenang sekali lantas tiada pernah datang kembali” ,,,, ”Mengherankan bahwa kenangan seringkali terpendam begitu lama dan muncul begitu saja tanpa ada sebab yang harus menghubungkannya”.
Lalu dimanakah akan kutanyakan jawab yang tak lagi bertali?
Aku mencoba untuk membicarakanmu sekarang
Kau ajarkan aku bahasa kasih sayang dengan sudut pandang yang tak pernah orang tahu dan melihatnya
Kau memberi warna buram pada pelangi yang semua orang mengaguminya. Entah apa yang sebenarnya kau pikirkan. Kau memaksaku memikirkan hal yang sama, memaksaku melakukan hal yang sama padahal kita berbeda kita tak pernah sama walaupun dalam hal cinta.
Kau ajarkan aku arti dari sebuah makna yang tak dimaknai oleh makna itu sendiri. Ketika aku bertanya, aku sudah mengira akan tetap ada tali yang akan terus menyeretku. Tapi lain hal dengan jawabmu
Kau tak lagi memberi tali tapi kau mengubangi jurang dan melepas taliku untuk kemudian menerjunkanku dengan kedalaman jurang yang kau sendiri tak memahami dalamnya
Ketika tanpa sadar aku sudah menjurang bahkan lebih dalam dari relung setiap orang, kau mencoba mengujiku dengan meninggalkan jejak setapak saja
Ternyata tak banyak beda bahwa pertanyaan jawab akan terus membawa tali walau itu tak secara langsung
“Ya Tuhan”
Ampuni dosa besarku telah mencoba untuk lari dari-Mu.
‘gila’
Tapi kataku ini ukiran dariku
Sekarang giliran-Mu kau ukir juga kanvasku untuk diriku
Walaupun terkadang tidak terlalu berimbang antara hitam dan putih tapi tetap harus berjalan keduanya.
Hari ini masih ku ceritakan kau
Kau mencoba bicara untuk tak membangun emosi didadaku, secara pelan dan berlahan agar aku tetap memikirkan dirimu yang hanya bayang yang masih ada disampingku. Kau berhasil dan aku terkalahkan oleh kata yang terdengar sebagai suara sebagai wakilmu untukku.
Kau, aku, dan dirinya atau mungkin ada mereka yang aku tak pernah tahu karena terlalu jauh waktu yang terjalin memisahkan antara ragaku dan ragamu tapi tak pernah untuk jiwa kita.
Dirinya kah yang kini sedikit akan menjadi larik dalam ceritaku. Bahkan ternyata kau hanya ingin sementara dengan dirinya tanpa nomer satu tetap aku duduki sebagai jabatan utama dalam relungmu.
“Cukup”
Sekarang hanya aku dan kau
Aku masih disini, sesungguhnyakah bahwa malam itu gelap. Kenapa aku tetap melihat bayangmu meski dalam gelap, aku tahu aku masih dalam sadar walau terkadang hanya bisa diam
Kau masih disana, sesungguhnyakah bahwa siang itu terang. kenapa kau tak mencoba memahami aku yang menantimu disini untuk mengolahkan menjadi lebih positif sebagai sudut pandang.
Sekarang kau ku artikan dirimu yang sedari tadi terus memandangku walau hanya dalam kata
Kau artikan sebegitu berat perjalanan karena terlau dipikirkan
Cobalah untuk melintaskan saja dan kemudian lakukan, akan lebih banyak positif daripada negatif sebagai aliran listrik dalam darahmu
Apakah kau mengerjipkan matamu
Aku ragu kau tak melakukannya
Aku bahkan sudah tak memahami dirimu yang kucoba untuk ceritakan.
Kau sebagai dirimu ataupun kau yang disana bukan aku yang disini dan bukan dirinya yang bersama kau disana tak pernah mereka yang ditempat mereka sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar