Translate

Sabtu, 06 April 2013

naskah drama (legenda)



PENGGANTI RATU PANTAI SELATAN
Oleh: Ninis Sofie


Tokoh
1.    Raja
2.    Istri 1
3.    Istri 2
4.    Istri 3
5.    Istri 4
6.    Dewi Kadita
7.    Anak laki-laki istri 2
8.    Anak perempuan istri 2
9.    Patih
10.  Tabib
11.  Pengawal

                 Dipanggung ada kursi singgasana raja, posisinya terletak agak pojok kanan  panggung bagian belakang ditutup kain putih (masih ada ruangan dibelakang kain putih) yang nantinya akan berfungsi memberikan siluet pada babak tertentu.

Babak 1
Raja                : (raja duduk di kursi dengan wajah berseri-seri ditemani salah satu istri (1) raja) “Istri-istriku kemarilah, ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua”
Istri 2,3,4         : “ada apa paduka?” (memasuki panggung dan langsung mengambil posisi sama dengan isiteri 1)
Istri 3               : “ada berita apakah paduka, sehingga kami dikumpulkan menjadi satu seperti ini?”
Istri 2               : “kalau firasat saya tidak salah adakah paduka ingin menikah lagi?”
Istri 4               : “adakah seperti itu paduka?”
Raja                : “hahaha,,, tidak demikian para istriku, aku sengaja mengumpulkan kalian di sini karena ada berita bahagia yang sedang melanda kerajaan kita”
Istri 2               : “berita apakah gerangan paduka?”
Raja                : “aku akan segera memiliki keturunan dari istri pertama ku”
Istri 2               : (kaget dan menjadi bermuka sinis terhadap istri 1)
Istri 4               : “benarkah demikian raja?”
Raja                : “iya, aku tadi telah mendengar berita dari tabib yang telah memeriksa istri ku yang pertama, ia telah mengandung, sudah dua bulan dan aku sangat gembira sekali”
Istri 1               : “semoga berita ini menjadi keberuntungan bagi kita semua paduka, terutama bagi para rakyat kita”
Raja                : “tentu saja istriku, dan tentunya untuk kalian semua kan istri-istriku” (sambil memandang istri 2,3,4 bergantian)
Istri 2,3            : “tentu saja paduka”
(melihat istri 4 tidak menjawab raja mendekatinya)
Raja                : “ada apakah gerangan istriku kenapa kau begitu terlihat bersedih?”
Istri 4               : “tidak apa-apa paduka, saya hanya merasa senang dengan berita ini, saya bersedih karena saya tidak bisa membahagiakan paduka seperti yang telah dilakukan oleh istri pertama paduka”
Istri 1               : “jangan berpikir begitu, suatu saat pasti ada waktunya sendiri”
Raja                : “yakinlah istriku (sambil memegang tangan istri 4) bagaimana pun keadaanmu aku adalah raja dan suami kalian aku akan selalu melindungi kalian,  sudah janganlah bersedih”
Istri 4               : “iya paduka”
Raja                : “bukankah seharusnya kita merayakan kabar bahagia ini dan segera mengumumkannya kepada seluruh penghuni kerajaan dan rakyat kita?”
Istri 2               : “saya akan segera menyiapkan perayaannya paduka, saya mohon diri terlebih dulu”
Istri 3,4            : “saya akan membantu”
Istri 1               : “saya akan sangat senang bisa bekerja bersama”
Raja                : “saya sangat bangga kepada kalian semua, baiklah segeralah persiapkan pesta ini, ingat jangan kerjakan sendiri, di istana ini banyak pembantu yang bisa membantu kalian mempersiapkan jangan sampai istri-istriku terlalu banyak bekerja dan lelah, kalian harus bisa memposisikan diri”
Istri 1,2,3,4      : “baik paduka”
Raja                : “ya sudah, segeralah persiapkan pestanya, sementara aku akan mengumumkan berita ini kepada seluruh rakyat”
(para istri meninggalkan panggung, raja tetap dipanggung)
Raja                : (berbicara kepada diri sendiri) “perasaan apa yang sedang melanda batinku ini, aku akan segera memiliki keturunan yang akan memimpin kerajaan ku ini, dan aku bisa segera beristirahat dengan tenang, tetapi kenapa? Sepertinya ada yang mengganjal dalam batinku?, apa aku terlalu senang dengan keadaan ini?ah,, sudah lah mungkin cuma terlalu khawatir dengan istriku yang pertama, mungkin aku takut kalau kandungannya tidak dijaga dengan baik maka akan memberikan dampak buruk terhadap keturunanku. Sudahlah aku akan segera mempunyai keturunan apa lagi yang aku risaukan.”
(patih kerajaan memasuki panggung)
Patih                : “adakah padukan memanggil saya”
Raja                : (raja terkaget dari lamunannya) “ah, kamu sudah datang ternyata”
Patih                : “ada perintah apakah raja sehingga raja memanggil saya, sepertinya raja begitu gelisah”
Raja                : “kamu salah tafsir patih”
Patih                : “maafkan kelancangan hamba paduka”
Raja                : “sudahlah tidak apa-apa, aku memanggilmu kemari karena ada kabar bahagia yang ingin aku sampaikan kepadamu dan kamu harus menyampaikannya kepada seluruh penghuni istana dan seluruh rakyatku”
Patih                : “kabar apakah gerangan paduka?”
Raja                : “istriku yang pertama tengah mengandung, dan kau tahu? Aku aka segera memiliki keturunan”
Patih                : “sungguh menggembirakan kabar ini paduka, hamba akan segara menyebarkan berita ini”
Raja                : “iya lakukan segera”
Patih                : “hamba yakin semua akan merasa senang mendengar berita ini, hamba mohon diri paduka, hamba sudah tidak sabar ingin menyebarkan kabar ini”
Raja                : “iya lakukan patih”
Patih                : “hamba mohon diri paduka” (meninggalkan panggung)
Raja                : “rakyat akan segera tahu kebahagiaan yang aku rasakan, ah kenapa pikiranku selalu teringat istriku yang pertama, mungkin aku perlu melihatnya” (keluar panggung)
(dilain sisi)
Istri 2               : (berbicara kepada istri 3,4, istri 1 tidak ada) “adakah kalian merasakan apa yang aku rasakan?”
Istri 4               : “tentu saja saudaraku, aku sangat merasa sedih karena belum bisa memberikan raja keturunan”
Istri 3               : “iya”
Istri 2               : “bukan itu yang aku maksud”
Istri 3,4            : “lalu apa?”
Istri 2               : “kenapa kalian tidak sadar juga, kapan terakhir kali padukan menyentuh kalian?
Istri 4               : “sudah beberapa hari yang lalu”
Istri 2               : “jarang kan menyentuh kalian? yang padukan perdulikan hanya istrinya yang pertama, jadi wajar kalau kita tidak segera memiliki keturunan, kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri dan bersedih karena tidak memberika paduka keturunan, kalian tahu paduka memang tidak pernah menganggap keberadaan kita, paduka sengaja jarang datang kekamar kita karena hanya ingin memiliki keturunan dari istrinya yang pertama saja”
Isrtri 4              : “jangan demikian saudaraku, paduka tahu apa yang harus ia perbuat mungkin paduka memang sudah memiliki waktunya sendiri untuk diri kita masing-masing, bukankah kita seharusnya senang dengan kebahagiaan yang tengah dirasakan paduka”
Istri 3               : “iya”
Istri 2               : “kalian ini tolol banget, kalau sampai bayi itu lahir, maka paduka akan bertambah mengacuhkan kita, bisa-bisa ia akan menendang kita dari istana ini”
Istri 3               : “apakah benar demikian saudaraku”
Istri 4               : “paduka tidak akan melakukan hal sekejam itu saudaraku”
Istri 3               : “iya”
Istri 2               : “kalau memang paduka tidak melakukannya maka istrinya yang pertama akan melakukannya”
Istri 4               : “jangan berburuk sangka seperti itu saudaraku”
Istri 2               : “ahhh,,, terserah kalian saja, suatu saat nanti kalian akan tahu kalau kita sengaja dijauhi paduka”
Istri 3               : “lalu kita harus bagaimana supaya paduka tidak menjauhi kita?”
Istri 2               : “pertanyaan bagus, tapi aku juga belum tahu jawabannya”
Istri 4               : “sudahlah, sebaiknya kita ikut berbahagia dengan kebahagiaan paduka, ayo kita bantu mempersiapkan pestanya”
 (hari itu seluruh kerajaan berpesta dengan kabar bahagia itu, tidak hanya orang-orang dalam istana, para rakyat pun bersuka cita menyambut keturunan sang raja)

Babak 2
                 Raja tengah duduk dikursi singgasananya, tengah gelisah menunggu tabib memeriksa keadaan istri pertamanya yang usia kandungannya sudah sembilan bulan tapi tak kunjung melahirkan)
Raja                : “istri-istriku”
                        (tidak ada yang datang)
Raja                : “kemana meraka ini, istri-istriku”
Istri 3,4            : “iya paduka”
Raja                : “dari mana kalian, kenapa tidak segera datang ketika aku memanggil”
Istri 4               : “maafkan kami paduka, kami ...”
Raja                : “ah,, sudah lah, kemana istriku yang ke dua?”
Istri 3               : “kami kurang tahu paduka”
Raja                : “ya sudah tak apa”
Istri 4               : “ada apakah paduka, sehingga paduka memanggil kami?”
Raja                : “aku ingin kalian menemaniku, aku sangat khawatir sekali dengan kandungan istri pertamaku, dari tadi tabib tidak keluar-keluar”
Istri 4               : “sepertinya tabib baru saja memeriksa istri pertama paduka, paduka mungkin terlalu gelisah sehingga merasa sangat lama”
Istri 3               : “paduka tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja paduka”
Raja                : “iya, terima kasih kalian sudah menemaniku”
(tabib memasuki panggung, baru saja selesai memeriksa kandungan istri 1)
Raja                : “ah, itu tabib sudah keluar, bagaimana keadaanya tabib”
Tabib               : “istri paduka baik-baik saja, tidak ada hal-hal yang perlu paduka khawatirkan”
Raja                : “keturunanku bagaimana?”
Tabib               : “kandungan istri padukan sehat sekali mungkin dalam waktu dekat beliau akan melahirkan”
Raja                : “benarkah tabib, lalu apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya persiapkan untuk menyambut kelahiran keturunanku, adakah tabib bisa memberitahu saya?”
Tabib               : “paduka tidak perlu membingungkan masalah itu, paduka istirahat saja karena paduka bukan hanya seorang suami tapi paduka juga merupakan raja dari semua rakyat kerajaan ini, paduka juga harus memperhatikan rakyat paduka”
Raja                : “terima kasih tabib atas nasihatmu, besok kau harus datang lagi karena aku ingin istriku kau rawat setiap hari”
Tabib               : “baiklah paduka, besok hamba pasti akan datang lagi, sekarang hamba mohon diri dulu paduka”
Raja                : “iya, berhati-hatilah”
Istri 4               : “sudahlah paduka, saya akan membantu paduka menjaga isrti pertama paduka, sesama istri paduka bukankah kami harus saling menjaga?”
Raja                : “iya, aku akan senang jika kau membantuku”
Istri 4               : “tentu saja dengan istri ke dua dan ke tiga, iya kan saudaraku?” (bertanya kepada istri 3)
Istri 3               : “eh,,, emm,,”
Istri 4               : “kenapa”
Istri 3               : “tidak apa-apa, iya tentu saja saya akan membantu degan senang hati”
Raja                : “saya akan menengok istri pertama dulu” (keluar panggung)
Istri 4               : “iya paduka silakan”
(istri 3,4 tetap di panggung)
Istri 4               : “ada apakah saudaraku kenapa kau seperti terlihat cemas?”
Istri 3               : “aku takut kalau apa yang dikatakan saudara kita istri kedua paduka benar”
Istri 4               : “maksud kamu, kalau kita akan diusir dari istana?”
Istri 3               : “iya”
Istri 4               : “sudahlah percayalah padaku itu tidak akan terjadi”

Babak 3
                        Putri raja dari istri pertamanya bernama Dewi Kadita, ia sudah beranjak remaja, sang ibu istri pertama raja meninggal ketika melahirkan Dewi Kadita.

Dewi Kadita    : “ayahanda adakah ayahanda kecewa dengan keberadaan saya”
Raja                : “kenapa engkau bertanya demikian anakku?”
Dewi Kadita    : “ayahanda tentu saja menginkan keturunan laki-laki, bukan perempuan seperti saya”
Raja                : “jangan bicara seperti itu, apapun keturunan yang saya dapatkan saya akan menerimannya dengan suka cita”
Dewi Kadita    : “lalu bagaimana dengan pewaris tahta ayahanda kelak”
Raja                : “sudah, jangan kau pikirkan masih ada banyak waktu untuk memikirkan itu, istri kedua juga sedang hamil saya harus juga menjaganya, jangan khawatir anakku, ayah tidak akan membeda-bedakan siapa keturunanku, ayaha akan berlaku seadil-adilnya”
Dewi Kadita    : “terima kasih ayahanda, saya ingin meminta izin ayahanda”
Raja                : “izin apa itu anakku”
Dewi Kadita    : “saya ingin berjalan-jalan keluar istana ayahanda, saya ingin merasakan kehidupan rakyat diluar saja”
Raja                : “itu berbahaya anakku”
Dewi Kadita    : “ayahanda boleh memerintah pengawal untuk mengawasi saya, tapi saya ingin diawasi dari jauh saja, saya ingin bergumul dengan rakyat ayahanda”
Raja                : “baiklah jika itu keinginanmu, tapi kamu harus berjanji untuk menjaga diri, dan jangan membahayakan dirimu sendiri, jika ada yang mencurigakan disekitarmu kamu harus segera memanggil pengawal”
Dewi Kadita    : “baik ayahanda, segera laksanakan” (dengan berlagak gaya patih saat hormat)
Raja                : “kamu ini bisa saja”
Dewi Kadita    : “saya pergi dulu ya ayahanda”
Raja                : “iya”

(dilain sisi sudah 9 bulan usia kandungan istri 2 dan dia bingung dengan sendirinya)

Istri 2               : (berbicara kepada diri sendiri) “apa yang harus saya perbuat agar Dewi Kadita bisa diusir dari istana ini, dan nantinya keturunankulah yang akan menjadi satu-satunya pewaris kerajaan, apa ya yang harus aku lakukan??” (mondar-mandir)
Raja                : “istriku dimana kamu?” (raja memasuki panggung)
Istri 2               : “aduuhh,,, raja,, aduuuhh,,”
Raja                : “ada apakah istriku”
Istri 2               : “sepertinya saya mau melahirkan raja”
Raja                : “pengawaaaaal... “
Pengawal        : “ada paduka”
Raja                : “segera panggilkan tabib”
Pengawal        : “baik paduka”
(hari itu juga istri 2 melahirkan bayi laki-laki, betapa bahagianya raja)
Raja                : “terima kasih istriku kau telah memberiku keturunan laki-laki”
Istri 2               : “lalu bagaiman dengan Dewi Kadita paduka”
Raja                : “kenapa? Apakah ada yang salah dengan dia”
Istri 2               : “tidak ada paduka”
Raja                : “saya akan menjaga keturunanku dengan baik dan akan berlaku seadil-adilnya”
Istri 2               : “iya paduka”

(istri 2 tetap saja tidak tenang dengan keberadaan Dewi Kadita, ia berpikir akan lebih baik jika Dewi Kadita diusir dari istana agar kelak anaknyalah satu-satunya pewaris dari kerajaan)
                   Malam itu istri 2 tengah menjalankan siasat buruknya untuk mengeluarkan Dewi Kadita dari istana, ia telah memerintahkan seorang dukun untuk mengubah kecantikan Dewi Kadita menjadi seorang yang sangat buruk rupa dengan penyakit kulit disekujur tubunya.

Raja                : “anakku ada apa dengan tubuhmu?
Dewi Kadita    : “tidak tahu paduka, ketika bangun tidur tubuhku menjadi seperti ini”
Istri 2               : “paduka janga menyentuhnya”
Raja                : “tapi dia anakku”
Istri 3               : “belum pernah ada kejadian seperti ini di dalam istana, semenjak istri pertama paduka meninggal”
Raja                : “apa yang harus saya lakukan”
Istri 4               : “kita perlu memanggil tabib paduka”
Istri 2               : “kalau kau memanggil tabib maka kewibaan paduka akan tercoreng”
Istri 3               : “kenap bisa seperti itu”
Istri 2               : “rakyat akan bertanya-tanya bagaimana bisa anak seorang raja menderita penyakit yang sangat menjijikkan, mereka akan meragukan kewibaan raja”
(raja bertambah bingung)
Raja                : “lalu apa yang harus saya lakukan”
Istri 2               : “demi kebaikan kita semua paduka, demi rakyat dan seluruh penghuni kerajaan ini, akan lebih baik jika Dewi Kadita diusir keluar istana”
Raja                : “jangan”
Istri 2               : “apakah paduka tidak memikirkan nasib rakyat, nasib semua penguhuni kerajaan, sebentar lagi penyakit itu akan cepat menular dan berita tentang penyakit itu juga akan tersebar, apakah paduka tidak memikirkan nasib rakyat paduka?”
Raja                : “apakah harus seperti itu istriku”
Istri 2               : “iya! dengan mengusir Dewi Kadita maka paduka akan aman”
Dewi Kadita    : “ayahanda bantu anakmu ini”
(raja semakin bingung)
Istri 3               : “mungkin untuk sementara apa yang disampaikan istri kedua benar paduka, paduka bisa mengasingkan Dewi Kadita untuk sementara sampai penyakitnya hilang”
Istri 2               : “penyakit seperti itu tidak akan bisa hilang”
Istri 4               : “kenapa kamu berbicara seperti itu”
Istri 2               : “tidak apa-apa itu hanya perkiraanku saja”
(maka diusirlah Dewi Kadita keluar istana)
                 Setelah bayi pertama lahir dari istri 2 raja, istri 2 melahirkan lagi tapi kali ini melahirkan seorang perempuan.
                        Sudah lama Dewi Kadita diusir dari istana, raja sudah mulai lupa dengan Dewi Kadita dan dia sibuk dengan mengajar anak laki-lakinya yang akan menjadi pewarisnya. Terdengar desas-desus bahwa Dewi Kadita putus asa dengan hidupnya karena sang raja sudah tak menghiraukannya dan penyakit yang dideritanya tak kunjung hilang, Dewi Kadita pergi kesebuah tebing ia menangis sejadi-jadinya disana tiba-tiba datang seorang dewa

Babak 4 Terjadi hanya siluet (dibelakang kain putih)

Dewa              : “hai anakku, aku mendengar rintihanmu, jika kau benar-benar menginginkan penyakit itu hilang darimu aku bisa melakukannya dengan mudah asal kau mau menjadi penguasa daerah di bawah tebing ini, LAUT SELATAN, apakah kau bersedia)
(Dewi Kadita yang sudah putus asa dengan hidupnya menerima saja)
Dewa              : “baiklah, terjunlah kau dari tebing ini ke laut itu kau akan mendapat segala yang aku inginkan disana”
Dewi Kadita    : “aaaa,,,,,” (terjun ke laut). (bayangan disiluet berlahan mengecul dan muncul bayangan lagi sesosok ratu dengan dayang-dayangnya)

Jadilah Dewi Kadita penguasa laut selatan dan berita ini terdengar keseluruh rakyat kerajaan dan sampai ditelinga istri 2 raja

Istri 2               : “apa yang harus saya lakukan, saya tidak akan membiarkankan Dewi Kadita menang dengan dia menjadi ratu dikerajaan lain, saya tidak akan terima, lalu apa yang harus saya lakukan”
Anak 2 istri 2   : “ibunda,, saya baru saja selesai belajar menenun dengan saudara-saudara ibu istri 3,4, sekarang saya ingin bermain dengan ibunda”

(melihat anak perempuannya istri 2 itu langsung mendapatkan ide untuk mengalahkan Dewi Kadita agar ia memang benar-benar terbuang dari kerajan manapun)

Istri 2               : “anak ku, aku ingin mengajakmu jalan-jalan”
Anak               : “kemana bu, tapi sekarang kan sudah agak gelap ibunda”
Istri 2               : “sudah tidak apa-apa, ayo ikut ibu”
Anak               : “iya ibunda” (dengan wajah berseri-seri)
(istri 2 dan anaknya berada dibelakang kain putih dan menjadi siluet)
Anak               : “ibunda kenapa kita berdiri ditebing ini bu, saya takut ibunda”
Istri 2               : “jangan takut anak ku, kau mau jadi seorang ratu”
Anak               : “ratu kerajaan ya bu, seperti ayahanda?”
Istri 2               : “iya anakku kerajaanmu terletak dibawah sana dilaut lepas yang sangat luas”
Anak               : “tapi aku tidak mau terjun bu, jurangnya dalam”
Istri 2               : “sudah terjunlah untukku, setelah itu aku yang akan menggantikanmu sebagai ratu karena tentu saja karena kau masih kecil, ayo terjun cepat”
(istri 2 mendorong anaknya kelaut)
Anak               : “ibuuuuuuu,,,,,,”
                 Tidak terjadi apa-apa, sang ibu pulang untuk menunggu kabar bahwa penguasa laut selatan sudah berganti dan ia akan segera menyusul anak perempuannya.
Keesokan harinya ketika sang raja tengah bercengkrama dengan istri 2,3,4 ada seorang pengawal membawa jasat seseorang.

Raja                : “kenapa lancang sekali kamu masuk tanpa seizinku”
Pengawal        : “maaf raja, hamba hanya ingin mengembalikan apa yang tengah hilang dari paduka”

Pengawal itu meletakkan jasat anak perempuan istri 2 dihadapan raja



SELESAI



Lampiran Legenda

Kisah Legenda Nyi Roro Kidul

Cerita tentang keberadaan Nyi Roro Kidul ini sangat terkenal. Bukan hanya dikalangan penduduk Yogyakarta dan Surakarta, melainkan di seluruh Pulau Jawa. Baik di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Di daerah Yogyakarta kisah Nyi Roro Kidul selalu dihubungkan dengan kisah para Raja Mataram. Sedangkan di Jawa Timur khususnya di Malang Selatan tepatnya di Pantai Ngliyep, Nyi Roro Kidul dipanggil dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul

Kanjeng Ratu Kidul

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. "Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku", kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. "Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya." Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. "Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri," kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..
Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.


Sejarah Kisah Cerita Nyi Roro Kidul
Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul adalah sebuah cerita legendaris Indonesia, yang dikenal sebagai Ratu Laut Selatan Jawa (Samudera Hindia atau Samudra selatan dari pulau Jawa) Dia juga disebut sebagai permaisuri dari Sultan Mataram, dimulai dengan Senopati dan berlanjut sampai sekarang. Nyai Roro Kidul memiliki banyak nama yang berbeda, yang mencerminkan beragam cerita-cerita asal di banyak kisah-kisah, legenda, mitos dan tradisional cerita rakyat.

Nyi Roro Kidul

 Menurut Babad Tanah Jawi (abad ke-19), menceritakan tentang adanya seorang raja di Pajajaran yang bernama Raja Mudingsari memiliki putri bernama Ratna Suwinda, putri ini memiliki kegemaran bertapa, sehingga pangeran-pangeran yang meminangnya di tolak semua. Hal ini membuat Raja Mudingsari marah dan mengusirnya. Ratna Suwinda mengembara bertujuan untuk mencari tempat yang cocok untuk bertapa, akhirnya sampailah di Gunung Kumbang dan bertapa dipuncak gunung tersebut, dipuncak gunung terdapat sebuah pohon cemara yang digunakan oleh Dewi Ratna Suwinda bila beralih rupa menjadi laki-laki dengan nama Hajar Cemoro Tunggal. Ada seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa berubah menjadi seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan adik kakek Joko Suruh, bernama Ratna Suwinda, menolak cintanya. Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian (Sholikhin, 2009 : 88-89).

 Disini akan diceritakan dalam versi cerita rakyat Pajajaran, hal ini dikarenakan di ujung timur Pulau Jawa kita akan menemukan kembali kisah tersebut. Adapun kisah cerita dimulai dari versi rakyat Pajajaran adalah sebagai berikut:

 Suatu ketika pada masa Prabu Mundingwesi memerintah di Kerajaan Pajajaran, telah memiliki seorang anak perempuan cantik. Ia dinamai Putri Kadita atau Putri Srengenge. Namun Prabu Mundingwesi menginginkan anak laki-laki maka Raja pun menikah lagi dengan dewi Mutiara dan memiliki anak laki-laki. Pada suatu ketika Dewi Mutiara berkata kepada sang Prabu bahwa kelak yang menjadi raja adalah anak hasil keturunannya dan supaya mengusir Kandita dari keratin, namun Prabu Mundingwesi menolaknya. Akhirnya Dewi Mutiara menenun Kadita menjadi berwajah jelek dan berbisul serta bau. Di bawah pengaruh Dewi Mutiara dan Patihnya, Prabu Mundingwesi pun mengusir anak dari keraton karena dikhawatirkan mereka akan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan. Dalam kondisi tersebut, Putri Kadita pergi tanpa tujuan. Putri Kadita terus berjalan menuju selatan hingga sampai di Laut Selatan. Putri Kadita memandang laut tersebut, tiba-tiba ada suara yang menyuruhnya terjun kelaut. Putri Kadita langsung melompat dari tebing curam ke tengah gulungan ombak, dan berenang di Laut Selatan. Saat berenang penyakitnya hilang seketika. Selain sembuh dan kembali cantik, ia juga beroleh kekuatan gaib serta menguasai Laut Selatan. Sejak itu ia disebut sebagai Nyi Loro Kidul (yang artinya loro = derita, kidul = selatan), atau Nyai Roro Kidul sang Ratu Penguasa Laut Selatan (Sholikhin, 2009 : 85-87).

 Dari versi Keraton Yogyakarta, Nyi Loro Kidul sebenarnya adalah putra (anak) dari seorang begawan bernama Abdi Waksa Geni. Ia berasal dari keluarga dengan dua bersaudara. Saudara kandungnya bernama Nawangsari, sedangkan nama dia yang sesungguhnya tidak diketahui. Awalnya, sewaktu masih menjadi manusia biasa Nyi Loro Kidul adalah gadis yang buruk rupa. Sedangkan saudara kandungnya sangat cantik. Kondisi ini membuat Nyi Loro kidul merasa minder bergaul dengan orang-orang di lingkungannya. Karena ayahnya seorang abdi, maka ayahnya selalu mengingatkan ia untuk tidak bersikap demikian. Sebagai usaha menghilangkan perasaan minder itu, ayah Nyi Loro Kidul meminta ia agar mandi dan bertapa di laut selatan. Pada saat mandi itulah ia didatangi oleh seorang dewa. Dewa itu menawarinya untuk merubah wajahnya menjadi cantik, dengan syarat dia harus mau diangkat jadi ratu di pantai laut selatan. Dengan adanya tawaran itu sang putri mau menerima, karena sudah terlanjur tidak mau bergaul dengan orang lain.

 Maka jadilah ia seorang yang cantik dan menguasai Kerajaan Laut Selatan, seperti yang dipercaya orang sampai saat ini. Keterkaitan antara kerjaan Mataram dengan Nyi Loro Kidul bermula pada saat sang raja ditawari menikah denganya. Ratu kidul sangat tergila-gila pada sang raja yang memiliki wajah yang sangat tampan. Pertemuan Nyi Loro Kidul dengan raja Mataram bermula pada saat sang raja bertapa di pantai Parangkusumo. Saat bertapa itu ratu Laut Kidul menemui Sang raja. Ratu Laut kidul menyukai sang raja dan mengatakan bahwa jika raja mau menjadi suaminya ia berjanji akan membantu menjaga kerajaan mataram sampai akhir hayatnya, bahkan sampai kiamat.

 Sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Nyi Loro Kidul, pihak keraton selalu mengadakan suatu kegiatan sebagai upacara untuk menghormati Sang Ratu. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan labuhan yang dilaksanakan di pantai selatan. Labuhan yang dilaksanakan oleh Raja Yogyakarta dilaksanakan di Parangtritis. Upacara menghormati Nyai Roro Kidul ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur yang memiliki daerah dengan batas Samudra Hindia atau Laut Selatan.

 Dari uraian dua versi di atas, dapat disimpulkan beberapa persamaan akan kisah tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut.

1. versi Pajajaran; Prabu Mundingwesi mengusir anak keraton karena dikhawatirkan mereka akan mendatangkan malapetaka bagi kerajaan karena menderita sakit kulit yang parah. Versi Jojakarta: Nyi Loro Kidul adalah gadis yang buruk rupa oleh karena itu dia di suruh ayahnya Begawan Abdi Waksa Geni untuk pergi mandi dan bertapa di laut selatan. Dalam versi Babad Tanah Jawa Ratna Suwandi di usir oleh Raja Mudingsari karena kebiasaan bertapa.

2. versi Pajajaran: Putri Kadita terus berjalan menuju selatan sampai akhirnya tiba di laut selatan. Versi Jogjakarta: Nyai Loro Kidul pergi ke laut selatan untuk mandi dan bertapa. Versi Babad Tanah Jawi, Ratna Suwida pergi ke pantai selatan Jawa.

3. Versi Pajajaran: Ada suara gaib agar Putri Kadita terjun ke laut selatan. Versi Jogjakarta: Pada saat mandi Nyai Loro didatangi oleh seorang dewa. Dewa itu menawarinya untuk merubah wajahnya menjadi cantik. Menurut versi Babad Tanah Jawa Ratna Suwida bertapa agar hidup abadi.

4. Versi Pajajaran: Putri Kadita melompat dari tebing curam ke tengah gulungan ombak, dan berenang di Laut Selatan. Penyakitnya menjadi sembuh.Versi Jogjakarta: Dengan adanya tawaran itu sang putri mau menerima, karena sudah terlanjur tidak mau bergaul dengan orang lain. Maka jadilah ia seorang wanita yang cantik.
 Versi Babad Tanah Jawi Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ke laut selatan namun dengan syarat menjadi makluk halus.

5. versi Pajajaran: Sang putri Kandita harus tetap tinggal di Laut Selatan. Versi Jgjakarta: Nyai Loro diangkat jadi ratu di pantai laut selatan. Versi Babad Tanah Jawi . Ratna Suwida menjadi penguasa Laut selatan Jawa.


Catatan
                 Banyak sekali versi yang hadir atas cerita Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan, karena begitu banyak versi dan saya tidak menemukan penjelasan yang tepat
akhirnya untuk naskah drama di atas saya menggabungkan beberapa pemahaman saya terhadap beberapa versi yang ada.






2 komentar: