Translate

Kamis, 11 April 2013

cerpen liris


Duh! Nyawa Tinggalkan Ragaku
Oleh: Ninis Sofie

Entah siapa yang sebenarnya pedang, apakah waktu itu sama dengan pedang ataukah pedang yang telah membunuh waktu. “kebenaran yang sebenarnya tak tahu itu benar”
nyawa, kapan terakhir kali kau akui raga sebagai dirimu
nyawa, bagaimana kau mengungkapkan bahwa ragaku adalah kamu
duh! nyawa sudikah dirimu untuk menjadi raga
raga, kapan pertama kali kau merasai bahwa nyawa selalu merabaimu
mamanjakan mu menjadikanmu tuan dan nyawa adalah hamba setiamu
raga, mengapa tak kau sadari bahwa kau tak pernah sendiri
aku memang tidak hanya diriku
ada kau dan dirimu
kita berdua atau menjadi bertiga untuk kemudian menjadi satu dalam tubuh yang tersebut manusia
**
Kereta itu tiba-tiba saja telah lewat
Bukan hal yang aneh untuk kehidupan direntaku yang telah lama tak kunjung usai
Hanya kereta itulah sumber kebisingan dalam kehidupanku
Aku tak memahami dimana kakek
Akulah nenek
Ketika aku mulai mendengar suara dalam sayup gendang telingaku yang kurasa mulai sulit bergetar hingga aku terlalu sulit mendengar bunyi sedalam  itu.
Aku ingin keluar menyaksikan kereta itu, menyaksikan diriku yang renta tak kunjung usai
Kiranya angin akan menjadi kakek, maka aku akan menjadi hujan, entah bertemu atau hanya akan bersapa, tak selayak pasir dan kerikil dan setidaknya aku adalah nenek
Panjang gerbong masih tetap sama, 7 gerbong dengan satu gerbong barang, tak pernah berubah semenjak angin yang menemaniku tadi menghilang tak akan pernah kembali lagi.
Aku menyaksikan bagaimana moncong hitam itu mulai sedikit demi sedikit muncul hingga membesar kemudian berwujudlah kereta api penemanku dari utara ke selatan atau dari selatan ke utara dengan penumpang berbaju tebal karena padang salju tak ragu menutupi setiap tanah hingga berubah menjadi uban selayak diriku.
Gerbong 1, gerbong 2, gerbong 3, gerbong 4, gerbong 5, gerbong 6, gerbong 7
Selesai
Telah aku lewati gerbong-gerbong itu hanya dalam sekali pandang
Bayangkan jika aku keluar 1 menit tidak lebih awal maka pemandangan yang kulihat tak akan sedemikian kali
Bahkan jika hanya 1 detik lebih akhir semua akan menjadi tidak sama. Sebegitu kuatkah waktu yang terkatakan fana
Entah siapa yang sebenarnya pedang, apakah waktu itu sama dengan pedang ataukah pedang yang telah membunuh waktu. “kebenaran yang sebenarnya tak tahu itu benar”
Jika itu lebih akhir
Tapi bagaimana jika lebih awal
1 menit lebih awal, atau bahkan 15 detik lebih awal, kita sudah sama-sama tahu bahwa semua akan terlihat berbeda termasuk suasan hati yang terasa walau tak teraba, karena tak semua hal dapat kita rasakan bersama
***
Hari berkutnya aku terbangun dengan kebisingan yang tak berbeda
tapi bukan berarti aku bangun tepat waktu
hanya saja aku sudah tak lagi mengenal waktu setepat dulu, sedalam atau sesempurna sebelumnya
Kau bertanyakah
Kapan aku ke kamar mandi dan makan
Aku tak lagi memerlukan itu
Aku bisa melakukannya dimanapun dan kapanpun aku mau karena disini hanya aku
dan nenek adalah aku
Angin telah memejamkan mata tak akan menemui ku lagi
Kakek, kau tingalkan nenek sedemikian hina hingga aku hanyalah nista
Padang sahara putih ini menjadi pelampiasan saja terhadap kejamnya batin yang telah menyiksa semua ragaku
Kemana nyawa yang masih dalam raga, mengapa terasa ada yang hilang yang tak kan pernah bisa kembali?
Kau kah itu kek
kereta api masih ku nikmati dengan cara yang sama persis dengan hari-hari sebelum hari ini
***
Hari berikutnya aku tak lagi membunuh kebosanan dengan kebisingan yang sama
Aku tak lagi membiarkan malam dan siang menyaksikan nenek berdiri tertegun memandangi gerbong kereta api yang tak pernah saling menyapa dalam pertemuan rutinnya padahal aku sudah bilang janji akan selalu menemuimu disini ditempat yang sama tapi kau seperti tak  peduliakan aku kereta api penemanku
Maka kali ini juga tidak akan memperdulikanmu
Aku berjalan, menyusuri rel yang ketika kupandangi menjadi jalan setapak menuju kehidupan kedua setelah kehidupan pertama yang cukup menyenangkan karena terlalu lama terpuruk dalam kenangan basi.
Aku sadar
Lamunanku buyar
Aku menghindar dari rel itu
Rel adalah besi batang untuk landasan jalan kereta api jika aku tetap berada disitu maka kakek akan membenciku karena mati denga cara yang sama
Dia akan merasa aku lebih bodoh darinya karena tidak mempunyi ide lain untuk hanya sekedar mengeluarkan kehidupan dalam raga yang tak sepenuhnya bernyawa ini, karena setengahnya telah kau bawa kek
Aku kembali menempati poisisi yang sama seperti halnya hari-hari sebelumnya
Dan aku tahu posisi itu telah menertawakanku karena aku tak kuasa untuk kembali padanya
Seperti membunuh kucing yang paling kita sayangi, tak tega tapi kita adalah pembunuh maka harus ada yang mati
Begitulah tempat itu berkata
Sekejam ini atau sesendu itu
Setidaknya darah telah banyak keluar dari perutku
Aku mulai pusing aku sengaja membiarkannya tetap mengalir untuk keluar dan membiarkan nyawaku terbang bebas
Kau bebas sekarang, kau tidak lagi diperbudak oleh raga yang selalu membebatmu dalam tubuh serenta waktu yang telah juga meninggalkanku
Kereta itu telah jatuh pada gerbong ke 2 ketika dunia sudah menjadi gelap, aku tersenyum karena nyawa telah pergi meninggalkanku
Terima kasih nyawa kau selama ini telah bersedia menemani raga ini
Kali ini Shinkasen menjadi lambat saja
Misalnya saja kereta api penemanku datang lebih awal 1 menit atau 1 detik saja maka dia akan tahu apa yang telah membuat nyawa meninggalkan ragaku
Misalnya saja kereta api penemanku terlambat 1 menit atau 1 detik saja maka ragaku akan semakin terbenam dalam hamparan uban putih dalam sahara itu
Terima kasih nyawa kau telah memberanikan untuk bebas dari persembahan budak yang dalam pertemuan kita tak pernah hadir.
Entah siapa yang sebenarnya pedang, apakah waktu itu sama dengan pedang ataukah pedang yang telah membunuh waktu. “kebenaran yang sebenarnya tak tahu itu benar”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar